Kegiatan pesantren ramadhan SMA Negeri 8 Banjarmasin memasuki hari keempat pada selasa (11/03) yang dilaksanakan bagi peserta didik kelas XII. dimulai dengan sholat dhuha dan tadarus al-qur’an bersama.
Acara dilanjutkan dengan agenda ceramah agama dengan materi yang pertama yaitu tentang fiqih puasa yang disampaikan oleh ustadz H. Muhammad Sasi.
Terdapat dua kebahagian bagi orang yang menjalankan ibadah puasa, yang pertama yaitu waktu ketika berbuka puasa karena pada saat berbuka kenikmatan yang diperoleh dapat meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT.Yang kedua yaitu kebahagiaan apabila nanti bertemu dengan Allah SWT karena atas ibadah puasa yang telah dijalankan akan sangat bernilai dihadapan Allah SWT.
Di bulan ramadhan, segala perbuatan akan dilipatgandakan nilai pahalanya bagi orang yang berpuasa. Tidurnya orang puasa dinilai ibadah. Diamnya orang puasa bernilai bagaikan sedang bertasbih. Ibadah orang yang berpuasa akan dilipatgandakan. Ibadah sunnah bernilai sebagai ibadah wajib dan yang wajib akan berlipat ganda. Maka hendaklah seorang muslim yang berpuasa memaksimalkan ibadahnya terutama di bulan ramadhan.
Dengan adanya bulan ramadhan ini dapat menjadi kesempatan bagi seorang muslim untuk meningkatkan ketakwaannya kepada Allah SWT. Semakin datangnya bulan ramadhan, semakin menambah ketakwaan, sehingga hendaklah seorang muslim dapat mempertahankan keimanan dan ketakwaannya baik setelah usai ramadhan.
Materi ceramah yang kedua mengenai akhlak yang disampaikan oleh Ustadz. H. Fadhli. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan terdapat dua macam akhlak yaitu akhlak mahmudah (perbuatan baik) dan akhlak mazmumah (perbuatan yang tercela).
Salah satu akhlak mahmudah seseorang terhadap sesamanya yaitu senyum. Senyum merupakan perbuatan yang paling mudah dan bernilai sedekah. Apabila seseorang bertemu dengan saudara maupun kerabatnya, hendaklah mereka saling senyum, mengucap salam, dan bersalaman.
Adapun akhlak yang paling utama yaitu akhlak terhadap orang tua. Seseorang yang ibadahnya tidak terlalu rajin, namun selalu memuliakan orang tuanya, selalu berpamitan dengan orangtua apabila akan bepergian, maka orang tersebut setelah wafat pun jasadnya masih utuh walau sudah bertahun-tahun sejak wafat.
Diriwayatkan kisah seorang pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya, pemuda tersebut bernama Uwais Al-Qarni. Suatu ketika ibunya berkata kepadanya, “Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji”. Uwais termenung mendengarnya, perjalanan dari tempat tinggalnya menuju kota Mekkah menempuh jarak beribu-ribu kilometer jauhnya dan melewati padang yang tandus. Orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan, sedangkan Uwais hanyalah pemuda miskin yang tidak memiliki kendaraan.
Setelah lama memikirkan cara agar ia bisa membawa sang ibu ke Mekkah, ia pun membeli seekor anak lembu. Ia membuat sebuah kandang di puncak gunung dan menggendong anak lembu tersebut naik turun setiap hari. Semakin hari anak lembu itu pun semakin besar dan berat, otot Uwais pun semakin kuat dan ia mampu membawa barang yang berat dengan mudah. Sehingga delapan bulan kemudian tepat pada bulan haji, dengan hasil dari latihannya mengangkat anak lembu itu ia bermaksud untuk membawa ibunya dari Yaman ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji.
Betapa mulianya perilaku Uwais Al-Qarni terhadap sang ibu. Rasulullah SAW pun sangat memuliakan Uwais karena begitu berbaktinya ia kepada ibunya. Nabi SAW bersabda, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”
Semoga kita senantiasa memuliakan orang tua kita sebagaimana Uwais Al-Qarni terhadap ibunya.