Dalam upaya mewujudkan visi sekolah yang berakhlak mulia, SMA Negeri 8 Banjarmasin kembali menggelar kegiatan rutin Jumat Takwa pada Jumat pagi, 17 April 2026. Kegiatan yang diliputi suasana religius ini diikuti oleh seluruh dewan guru, tenaga administrasi, mahasiswa asistensi, serta murid-murid SMAPAN.
Hadir sebagai pemateri, Ustadz H. Rajudin, yang memberikan tausiyah mendalam mengenai tema sentral kehidupan seorang muslim: "Iman dan Islam".
Keseimbangan Hubungan Vertikal dan Horizontal
Dalam pembukaannya, Ustadz H. Rajudin menekankan bahwa kesempurnaan beragama terletak pada dua keseimbangan hubungan. Pertama, Hablum Minallah (hubungan baik dengan Allah) dan kedua, Hablum Minannas (hubungan baik dengan sesama manusia). Beliau menjelaskan bahwa takwa secara sederhana berarti menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Iman: Dari Kalimat Tauhid hingga Hal Terkecil
Ustadz H. Rajudin memaparkan bahwa iman memiliki 77 tingkatan atau cabang.
Tingkatan tertinggi adalah kalimat Tauhid, Lailahaillallah.
Tingkatan terendah adalah melakukan kebaikan-kebaikan kecil yang sering dianggap sepele, seperti mengambil sampah (ratik) di lantai atau menyingkirkan duri dari jalanan.
Beliau juga mengingatkan pentingnya lisan yang terbiasa berdzikir. Mengutip pesan dari Syekh Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan), beliau menyampaikan bahwa barang siapa yang lidahnya terbiasa melafalkan Lailahaillallah semasa hidup, maka Allah akan memudahkan baginya untuk mengucapkan kalimat tersebut di akhir hayatnya.
Tiga Unsur Iman dan Utamanya Shalat
Menjawab keraguan mengenai pembagian iman, Ustadz H. Rajudin menjelaskan bahwa iman secara utuh terdiri dari tiga unsur yang tak terpisahkan:
Tasdiq bi al-qalb: Meyakini dan membenarkan di dalam hati bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Iqrar bi al-lisan: Mengakui dan bersaksi melalui ucapan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Amal bi al-arkan: Membuktikan keyakinan tersebut melalui perbuatan nyata atau amal shaleh.
Di antara sekian banyak amal shaleh, beliau menegaskan bahwa shalat adalah ibadah yang paling utama. Shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab (diperiksa) di hari kiamat kelak sebagai tolok ukur baik-buruknya amalan lainnya.
CCTV Allah dan Bahaya Kesombongan
Satu pesan kuat yang disampaikan adalah kesadaran bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. "Tubuh kita ini ibarat memiliki CCTV alami. Setiap jengkal perbuatan kita terekam secara rahasia," ujar beliau. Beliau mengimbau agar kita tidak mengumbar aib atau kesalahan masa lalu kepada orang lain agar kesalahan tersebut tidak menjadi saksi yang memberatkan di akhirat. Sebagai solusinya, Allah memberikan "fitur" delete (hapus) bagi dosa-dosa manusia melalui Istighfar dan Taubat.
Beliau juga mengingatkan seluruh hadirin untuk menjauhi sifat sombong. Beliau mencontohkan Iblis, sosok yang memiliki ilmu sangat tinggi namun dilaknat Allah karena merasa paling hebat dan meremehkan makhluk lain. Sebagai benteng dari godaan iblis, manusia dianugerahi senjata berupa istighfar dan shalawat.
Menutup dengan Malu dan Silaturahmi
Menutup ceramahnya, Ustadz H. Rajudin mengajak murid-murid untuk memiliki rasa malu. Malu kepada Allah, malaikat, dan sesama manusia jika terbesit keinginan untuk berbuat buruk. Sebaliknya, jangan pernah malu untuk berbuat kebaikan. Beliau juga menyelipkan keutamaan bersalaman antar sesama muslim, di mana dosa-dosa akan berguguran sebelum tangan mereka terlepas.
Melalui kegiatan Jumat Takwa ini, SMA Negeri 8 Banjarmasin berharap seluruh civitas akademika tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keteguhan iman yang tercermin dalam perilaku sehari-hari, selaras dengan semangat SMAPAN BerAKSI.